Hari Hepatitis Sedunia: Hepatitis: Menggerogoti Hati, Merenggut Jiwa

“Kita memiliki satu nyawa (kehidupan) dan satu hati. Hepatitis dapat merampas keduanya. Jangan menunggu, lakukan tes hepatitis untuk melindungi diri Anda dan keluarga Anda.”

  • Secara global, hepatitis telah merenggut lebih dari satu juta nyawa setiap tahun atau 1 orang setiap 30 detiknya.
  • Hati merupakan organ tubuh kita yang bekerja seperti “pabrik” kimia yang menjalankan metabolisme lebih dari 500 fungsi vital sehari-hari agar kita bertahan tetap hidup.
  • Indonesia termasuk ke dalam daerah dengan prevalensi hepatitis B dengan tingkat endemisitas menengah sampai tinggi.
  • Hepatitis adalah peradangan hati, yang sebagian besar disebabkan oleh virus hepatitis tipe A, B, C, D dan E.
  • Penyakit hepatitis, bak siluman, ia menyerang secara senyap, gejala-gejalanya baru muncul setelah penyakitnya sudah lanjut.
  • Untuk menjaga hati yang sehat, kita perlu menyingkirkan virus hepatitis dan menangkalnya dengan gerakan “Pelita Hati”.
  • Jagalah hati jangan kau nodai (dengan virus hepatitis, dan laku tercela), jagalah hati cahaya Illahi.

Itulah tema dan pesan dari WHO (World Health Organization) pada peringatan Hari Hepatitis Sedunia, 28 Juli 2023. Pesan tersebut perlu dukungan dari masyarakat global mengingat hepatitis telah merenggut lebih dari satu juta nyawa setiap tahunnya, yang semestinya itu dapat dicegah.

Penyakit hepatitis atau peradangan hati, bak siluman, ia beraksi secara senyap, gejala-gejalanya baru muncul setelah penyakitnya sudah lanjut. Sebagian besar penderita tidak merasakan adanya gejala-gejala yang dideritanya. Secara global, sebagian besar orang yang hidup dengan hepatitis tidak terdiagnosis dan tidak diobati.

Multifungsi Hati

Mengapa kerusakan hati dapat menyebabkan kematian? Karena hati merupakan organ tubuh kita yang melakukan lebih dari 500 fungsi vital sehari-hari untuk menjaga kelangsungan hidup kita. Hati merupakan “pabrik” kimia terbesar di dalam tubuh yang menjalankan metabolisme, artinya hati akan mengubah zat makanan yg diserap dari usus dan disimpan di suatu tempat di dalam tubuh, guna dibuat sesuai untuk pemakaiannya di dalam jaringan. Hati juga mengubah zat buangan (sampah) dan bahan-bahan racun agar mudah diekskresikan ke dalam empedu dan air kemih (urin).

Hati juga tempat menyimpan glikogen sebagai cadangan energi, vitamin A dan D, lemak, serta zat besi, dan membuat garam empedu. Garam empedu penting untuk pencernaan dan penyerapan lemak. Selain itu, hati membantu menjadi suhu tubuh.

Hati memiliki fungsi menjaga “isi normal darah”, karena hati: (1)  membentuk sel darah merah (eritrosit) pada masa hidup janin, (2) menghancurkan eritrosit, (3) menyimpan hematian yang dibutuhkan untuk penyempurnaan eritrosit baru, (4) membuat sebagian besar protein plasma, (5) membersihkan bilirubin dari darah, dan  (6) menghasilkan protrombin dan fibrinogen yang penting dalam penggumpalan darah (Irianto, 2017).

Dampak Hepatitis

Meskipun ada banyak jenis virus hepatitis (A hingga E), hepatitis B dan C adalah yang paling mengkhawatirkan, karena menyebabkan hampir 8.000 infeksi baru setiap hari, dan sebagian besar tidak terdeteksi. Itu berarti lebih dari 5 infeksi setiap menitnya atau satu infeksi baru setiap 10 detik.

Gabungan, hepatitis B dan hepatitis C menyebabkan 1,1 juta kematian dan 3 juta infeksi baru setiap tahun. Sekitar 350 juta orang hidup dengan infeksi virus hepatitis kronis dan 3.000 orang meninggal karena hepatitis setiap hari. Itu berati satu kematian hepatitis setiap tiga puluh detik (WHO, 2023).

Jika pola tren saat ini berlanjut, virus hepatitis akan membunuh lebih banyak orang setiap tahunnya daripada gabungan malaria, tuberkulosis, dan HIV/AIDS pada tahun 2040.

Meskipun penyakit ini ganas, tetapi dapat dicegah. Pencegahan dapat dilakukan dengan vaksinasi. Kini telah tersedia vaksin dan pengobatan yang efektif untuk hepatitis B dan bahkan obat untuk hepatitis C.  

Hepatitis di Indonesia

Bagaimana hepatitis di Indonesia? Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Balitbangkes tahun 2013, penderita hepatitis B dan C di Indonesia diperkirakan 20 juta orang (prevalensi hepatitis B sebesar 7,1% dan hepatitis C 1%). Indonesia digolongkan ke dalam daerah dengan prevalensi hepatitis B dengan tingkat endemisitas menengah sampai tinggi (Panduan Peringatan Hari Hepatitis Sedunia, 28 Juli 2021).

Menurut Laporan Nasional Riskesdas tahun 2018, prevalensi hepatitis (terdianogsis) di Indonesia sebesar 0,4% atau mengalami kenaikan sebesar 100% jika dibanding prevalensi di tahun 2013 yang besarnya 0,2%. Propinsi Papua dengan prevalensi hepatitis tertinggi mencapai 0,66% dan terendah sebesar 0,18% berada di propinsi Bangka Belitung.

Penyebab Hepatitis

Hepatitis adalah peradangan hati, terutama yang disebabkan oleh virus infeksius, dan sebagian kecil oleh agen non-infeksius. Terdapat lima jenis hepatitis, yaitu A, B, C, D, dan E yang berturut-turut disebabkan oleh virus hepatitis tipe A, B, C, D dan E. Meskipun semuanya menyebabkan penyakit hati, mereka berbeda dalam beberapa hal, seperti cara penularan, tingkat keparahan penyakit, distribusi geografis, dan metode pencegahan. Secara khusus, tipe B dan C menyebabkan penyakit kronis dan bersama-sama menjadi penyebab paling umum dari sirosis hati, kanker hati dan kematian yang berhubungan dengan virus hepatitis.

Penyebab lain, meskipun jumlah kasusnya sedikit, dapat disebabkan oleh gangguan sistem kekebalan, konsumsi alkohol berlebihan, cacing hati, dan obat-obatan yang melebihi dosis.

Baca juga: Waspadalah! Aspartam, Pemanis Buatan Berpotensi Sebabkan Kanker

Gejala Hepatitis

Banyak orang yang terjangkit hepatitis tidak memiliki gejala dan tidak mengetahui bahwa mereka terinfeksi. Namun, setiap bentuk virus (A, B, C, D atau E) dapat menyebabkan gejala yang lebih parah. Jika gejala terjadi dengan infeksi akut, gejala tersebut dapat muncul kapan saja dari 2 minggu hingga 6 bulan setelah paparan. Gejala hepatitis akut dapat berupa demam, kelelahan, kehilangan nafsu makan, mual, muntah, sakit perut, urin berwarna gelap, tinja berwarna terang, nyeri sendi, dan penyakit kuning. Gejala hepatitis virus kronis dapat membutuhkan waktu puluhan tahun untuk berkembang (CDC, 2023).

Fakta Penting Tipe Hepatitis

Hepatitis A. Tersedia vaksin yang efektif. Penyakit ini muncul terkait dengan makanan yang terkontaminasi atau penularan dari orang ke orang.  Umum terjadi di banyak negara, terutama yang tidak memiliki sanitasi yang baik.

Hepatitis B. Tersedia vaksin yang efektif. Sekitar 2 dari 3 orang dengan hepatitis B tidak mengetahui bahwa mereka terinfeksi. Pada tahun 2020, tingkat kasus yang baru dilaporkan hampir 12 kali lebih tinggi pada orang Kepulauan Asia Pasifik dibandingkan orang kulit putih non-Hispanik. Hepatitis B adalah penyebab utama kanker hati.

Hepatitis C. Hepatitis C dapat disembuhkan pada lebih dari 95% kasus. Hampir 40% penderita hepatitis C tidak tahu bahwa mereka terinfeksi. Pada tahun 2020, tingkat kematian terkait hepatitis C tertinggi pada orang Indian Amerika/penduduk asli Alaska dan orang kulit hitam non-Hispanik. Hepatitis C adalah penyebab utama transplantasi hati dan kanker hati. Vaksin belum tersedia.

Hepatitis D, juga dikenal sebagai “hepatitis delta”, hanya terjadi pada orang yang juga terinfeksi virus hepatitis B. Hepatitis D menyebar ketika darah atau cairan tubuh lain dari seseorang yang terinfeksi virus memasuki tubuh seseorang yang tidak terinfeksi. Orang dapat terinfeksi virus hepatitis B dan hepatitis D secara bersamaan (dikenal sebagai “koinfeksi”) atau terkena hepatitis D setelah pertama kali terinfeksi virus hepatitis B (dikenal sebagai “superinfeksi. Pencegahan hepatitis B dengan vaksin hepatitis B juga melindungi terhadap infeksi hepatitis D di masa depan. Vaksin D belum tersedia.

Hepatitis E. Virus hepatitis E ditemukan di tinja orang yang terinfeksi. Itu menyebar ketika seseorang tanpa sadar menelan virus tersebut. Di negara berkembang, orang paling sering terkena hepatitis E dari air minum yang terkontaminasi tinja dari orang yang terinfeksi virus tersebut. Di Amerika Serikat dan negara maju lainnya di mana hepatitis E tidak umum, orang menjadi sakit hepatitis E setelah makan daging babi mentah atau setengah matang, daging rusa, daging babi hutan, atau kerang. Vaksin belum tersedia.

Pencegahan dan Pengendalian Hepatitis

Mengingat demikan pentingnya organ hati bagi kehidupan kita, kiranya sangat urgen untuk turut menjaga kesehatannya. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah membuat program Pengendalian dan Penanggulangan Hepatitis yang disebut dengan “PELITA HATI”, yakni:

1. Perilaku Hidup Bersih Sehat: terapkan perilaku hidup bersih dan sehat untuk mencegah dan mengendalikan hepatitis. Aktivitas ini mencakup: mencuci dan / atau memasak bahan makanan yang akan dikonsumsi, terutama seafood seperti kerang dan tiram, sayuran, serta buah-buahan, dan menjaga kebersihan sumber air, menggunakan air yang layak untuk minum atau untuk mencuci peralatan makan, menerapkan sanitasi, dan menyediakan fasilitas kamar mandi atau tempat cuci tangan yang memadai.

2. Imunisasi; berikan imunisasi / vaksinasi secara lengkap dan tepat waktu untuk memberikan perlindungan dari hepatitis. Sekarang ini sudah ada vaksin yang bisa mencegah hepatitis A dan B, tapi belum ada vaksin untuk hepatitis C, D, E.

3. Temukan; temukan segera dengan deteksi dini hepatitis B dan atau C pada ibu hamil dan kelompok berisiko terinfeksi hepatitis lainnya, mengetahui apakah miliki gangguan autoimun, lahir dari ibu yang terinfeksi virus hepatitis B, memiliki infeksi akut atau kronis dengan satu atau lebih virus, atau bekerja dengan paparan bahan kimia beracun,

4. Tangani: tangani segera dengan melakukan tatalaksana atau pengobatan secara tepat sesuai anjuran dokter hingga sembuh/virus terkontrol dan tidak menularkan ke orang lain

5. Hilangkan Hepatitis: lakukan upaya pencegahan dan pengendalian secara dini dan tepat sehingga hepatitis dapat dieliminasi. Kegiatan ini mencakup: mengurangi konsumsi alkohol, tidak berbagi untuk menggunakan bersama sikat gigi, pisau cukur, atau jarum suntik dengan orang lain, tidak menyentuh darah tanpa sarung tangan pelindung, melakukan hubungan seksual yang aman, tidak berganti-ganti pasangan (setia pada satu pasangan).

Beberapa jenis hepatitis dapat dicegah melalui vaksinasi. Sebuah studi WHO menemukan bahwa sekitar 4,5 juta kematian dini dapat dicegah di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah pada tahun 2030 melalui vaksinasi, tes diagnostik, obat-obatan, dan kampanye pendidikan. Strategi hepatitis global WHO, yang didukung oleh semua negara anggota WHO, bertujuan untuk mengurangi infeksi hepatitis baru hingga 90% dan kematian hingga 65% antara tahun 2016 dan 2030.

Peran Hati dari Dimensi Rohani

Selain seabreg fungsi hati tersebut di atas, menurut Stephen R. Covey di dalam bukunya The 8th Habit, hati merupakan komponen diri manusia yang dibutuhkan untuk mencintai (to love), memiliki bentuk kecerdasan Emotional Quotient (EQ) dan ekspresi perwujudannya bergairah, serta memberikan peran dalam kepemimpinan (leadership) sebagai pemberdaya. Dalam pengembangan karir, manajerial, dan kepemimpinan, faktor EQ (hati) yang baik sangat membantu kesuksesan seseorang, dan dapat melampaui atau tidak kalah dengan peran Intelligent Quotient (IQ).

Peran hati dalam kehidupan ini juga diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, dalam sabdanya:

“Ketahuilah bahwa dalam jasad manusia ada segumpal daging, jika baik maka baiklah seluruh anggota dan jika tidak baik (rusak) maka rusaklah seluruh anggota, dan ketahuilah itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menilik dari berbagai cakupan peran hati tersebut, nampaknya tidak cukup hanya fokus pada kesehatan organ hati secara jasmani, tetapi juga diperlukan untuk menjaga hati secara rohani.

Akhirnya, untuk menjaga hati yang sehat, kita perlu menyingkirkan penyebab hepatitis, seperti virus yang menginfeksi hati, dan menangkalnya dengan gerakan “Pelita Hati”, dan sekali lagi mari:

Jagalah hati jangan kau kotori (dengan virus hepatitis, dan laku tercela)

Jagalah hati lentera hidup ini

Jagalah hati jangan kau nodai (dengan virus hepatitis, dan laku tercela)

Jagalah hati cahaya Illahi

(Penggalan lirik Jagalah Hati dari Aa Gym)

Referensi

Irianto, K. 2017. Anatomi dan Fisiologi. Penerbit Alfabeta , Bandung.

By Dr. Ir. Wisnu Adi Yulianto, MP

Dr. Ir. Wisnu Adi Yulianto, MP. Dosen Magister Ilmu Pangan (S2) dan Teknologi Hasil Pertanian (S1), Fakultas Agroindustri, Universitas Mercu Buana Yogyakarta, dan Pengurus Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) pangandangizi.com : turut serta menyediakan informasi dan edukasi pangan dan gizi untuk meningkatkan kesehatan anak bangsa. Menjadi media komunikasi yang memberikan solusi terhadap permasalahan pangan dan gizi bangsa.

Daftar Isi