Film “KKN di Desa Penari” yang menghebohkan dunia perfilman Indonesia

Film “KKN di Desa Penari” yang menghebohkan dunia perfilman Indonesia

  • Angka stunting di Indonesia masih tinggi, bahkan di beberapa kabupaten mencapai lebih 50%
  • Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa wajib peduli terhadap risiko stunting yang berdampak pada turunnya kecerdasan SDM dan timbulnya penyakit kronis di masa dewasa.
  • Kabupaten Bogor, Sukabumi, dan Jember merupakan kabupaten yang laju penurunan angka stunting-nya sangat lambat
  • Mahasiswa dapat berbakti melalui KKN di Desa Stunting di ketiga kabupaten tersebut, melalui intervensi spesifik dan sensitif.

Penonton Film “KKN di Desa Penari” telah tembus 10 juta! Pemecah rekor untuk penonton film terbanyak di Indonesia. Film mistis itu telah menyihir antusiasme penonton untuk menikmati film yang diliputi cekaman sosok hantu Badarawuhi.  Sudah semestinya, kini antusiasme dan semangat kerja yang sama hebohnya perlu dilakukan untuk “menumpas hantu” stunting di Indonesia.

Stunting telah menghantui kita, bagaimana tidak, lebih dari 30% anak-anak di Indonesia mengalami stunting (balita tumbuh kerdil), bahkan di beberapa kabupaten angkanya malah lebih dari 50%, itu artinya jika ketemu 2 anak maka 1 anak mengalami stunting. Sebagaimana jumlah penonton film “KKN di Desa Penari”, kini gilirannya masyarakat luas dalam jumlah yang lebih masif untuk saiyeg saeko praya atu bergotong royong (bahu membahu membentuk tekad yang kuat) turut serta mendukung dan menyukseskan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Desa Stunting.

Mengapa harus melibatkan mahasiswa? Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, mahasiswa telah berkontribusi penting, dalam memperjuangkan martabat dan kemajuan bangsanya, diantaranya dengan lahirnya Kebangkitan Nasional tahun 1908, Sumpah Pemuda tahun 1928, Proklamasi Kemerdekaan NKRI tahun 1945, Lahirnya Orde Baru tahun 1966, dan Reformasi tahun 1998. Mahasiswa didukung oleh modal dasar yang mereka miliki, yaitu: intelegensia, kemampuan berpikir kritis, keberanian dan bertanggung jawab akan masa depan bangsanya. 

Dampak Stunting

Kini tantangan baru itu bernama stunting, bagaimana mempercepat penurunan stunting. Stunting memiliki efek jangka panjang pada masa dewasa, dampaknya menyebabkan gangguan perkembangan fungsi kognitif (keterlambatan perkembangan otak) atau penurunan kemampuan intelektual, dan psikomotorik, serta produktivitas kerja. Anak stunting (parah) memiliki IQ rata-rata 11 poin lebih rendah dan memiliki prestasi belajar di bawah rata-rata dibandingkan anak yang tidak stunting atau normal (Unicef, 2016). Anak yang menderita stunting memiliki peluang 5,2 untuk mendapatkan kecerdasan rata-rata yang lebih rendah dibandingkan anak yang tidak stunting setelah dikontrol oleh variabel perancu, asupan makanan, status ekonomi, sanitasi lingkungan, dan akademik (Aurora dkk., 2020). Kekurangan gizi pada masa 1000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak dari janin sampai berumur 2 tahun tersebut, selain menurunkan kognisi, juga berisiko terhadap penyakit kronis pada usia dewasa, seperti kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, hipertensi, stroke, dan diabetes (Peraturan Menteri Kesehatan RI no 41 tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang).

Stunting di Bogor, Sukabumi, dan Jember

Menyadari betapa buruk dampaknya dari stunting tersebut, mahasiswa dapat melaksakanan KKN pada desa-desa di kabupaten yang masih sangat tinggi angka stunting-nya. Berdasarkan 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (2017) dan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 menunjukkan bahwa Kabupaten Bogor, Sukabumi dan Jember merupakan kabupaten yang capaian laju penurunannya sangat lambat.

Pada tahun 2013 angka stunting di ketiga kabupatan tersebut, berturut-turut sebesar 28,29% (balita stunting terbanyak: 148,76 ribu jiwa), 37,1% (85,65 ribu jiwa), dan 44,1% (80,36 ribu jiwa) dan pada tahun 2022 turun menjadi 24,9%, 27,5%, dan 34,9%. Dengan demikian laju penurunan angka stunting dalam 9 tahun (2013-2022) sebesar 0,39%, 1,01%, dan 1,02% per tahun. Tentu saja, ketiga kabupaten tersebut sangatlah sulit mencapai target nasional yang ditetapkan Bapak Presiden Joko Widodo sebesar 14% pada tahun 2024.

Hal yang menarik, mengapa Bogor seolah tidak mengalami penurunan? Yang mana kota ini dekat dengan Pusat Pemerintahan RI,Jakarta, bahkan terdapat Istana Negara di Bogor. Hal ini semakin menyadarkan diri kita bahwa stunting merupakan permasalahan yang begitu kompleks, apalagi kabupaten Bogor berpenduduk 5.427.068 jiwa merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk terbanyak di Provinsi Jawa Barat, bahkan di Indonesia (hasil Sensus Penduduk Tahun 2020 yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik).  Stunting disebabkan banyak faktor, seperti jumlah penduduk, kemiskinan, pendidikan, ketahanan pangan, ketersediaan air bersih, sarana dan prasarana kesehatan dan lain-lain. Dengan demikian penyelesaiannya pun perlu dukungan dari berbagai pihak, baik swasta, pemerintah dan segenap masyarakat, termasuk mahasiswa.

KKN di desa-desa stunting di ketiga kabupaten tersebut dapat menjadi prioritas utama. Mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa dapat banyak belajar dan berpartisipasi langsung, serta menaruh kepedulian terhadap nasib masyarakat yang kebanyakan tidak beruntung secara ekonomi. Kehadiran mahasiswa dari berbagai Fakultas atau Program Studi seperti Kedokteran, Gizi, Teknologi Pangan, Pertanian, Peternakan, Perikanan, Teknik Sipil, Teknik Informasi dan lain-lain, mengasah para mahasiswa belajar bekerjasama, berkolaborasi, berkomunikasi, dan memecahkan masalah secara nyata.

Secara terperinci sesungguhnya pemerintah telah mengetahui penyebab utama dari stunting, yaitu praktek pengasuhan yang kurang baik, masih terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC-Ante Natal Care (pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan), Post Natal Care, dan pembelajaran dini yang berkualitas, masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi, dan kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi.

Untuk mengatasi stunting tersebut, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (2017) telah merumuskan 2 pendekatan, yaitu intervensi spesifik dan intervensi sensitif.

Intervensi Spesifik

Intervensi spesifik untuk anak dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mencakup:

  1. Intervensi gizi spesifik dengan sasaran ibu hamil. Intervensi ini meliputi kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada ibu hamil untuk mengatasi kekurangan energi dan protein kronis, mengatasi kekurangan zat besi dan asam folat, mengatasi kekurangan iodium, menanggulangi kecacingan pada ibu hamil serta melindungi ibu hamil dari malaria.
  2. Intervensi gizi spesifik dengan sasaran ibu menyusui dan anak usia 0-6 Bulan. Intervensi ini dilakukan melalui beberapa kegiatan yang mendorong inisiasi menyusui dini/IMD terutama melalui pemberian ASI (Air Susu Ibu) jolong/kolostrum serta mendorong pemberian ASI eksklusif.
  3. Intervensi gizi spesifik dengan sasaran ibu menyusui dan anak usia 7-23 bulan. Intervensi ini meliputi kegiatan untuk mendorong penerusan pemberian ASI hingga anak/bayi berusia 23 bulan. Kemudian, setelah bayi berusia diatas 6 bulan didampingi oleh pemberian MP-ASI, menyediakan obat cacing, menyediakan suplementasi zink, melakukan fortifikasi zat besi ke dalam makanan, memberikan perlindungan terhadap malaria, memberikan imunisasi lengkap, serta melakukan pencegahan dan pengobatan diare.

Intervensi sensitif

Intervensi sensitif yang dilakukan mencakup:

  1. Menyediakan dan memastikan akses terhadap air bersih.
  2. Menyediakan dan memastikan akses terhadap sanitasi.
  3. Melakukan fortifikasi bahan pangan.
  4. Menyediakan akses kepada layanan kesehatan dan Keluarga Berencana (KB).
  5. Menyediakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
  6. Menyediakan Jaminan Persalinan Universal (Jampersal).
  7. Memberikan pendidikan pengasuhan pada orang tua.
  8. Memberikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Universal.
  9. Memberikan pendidikan gizi masyarakat.
  10. Memberikan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi, serta gizi pada remaja.
  11. Menyediakan bantuan dan jaminan sosial bagi keluarga miskin.
  12. Meningkatkan ketahanan pangan dan gizi.

Dengan demikian, sesungguhnya mahasiswa KKN dapat melaksanakan kegiatan dengan menindaklanjuti program-program tersebut yang disesuaikan dengan kondisi desa dimana mahasiswa ber-KKN. Gerakan mahasiswa ini insyaallah mendorong dan memovitasi masyarakat luas untuk turut berpartisipasi menurunkan angka stunting di Indonesia. Selamat ber-KKN: selamat menurunkan balita stunting, dan mengangkat martabat bangsa!

Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Sosialisasi Gizi dan Stunting di Kangkung A, Ngeposari, Semanu, Gunung Kidul

KKN Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY): Sosialisasi Gizi dan Stunting di Kangkung A, Ngeposari, Semanu, Gunung Kidul

Referensi

  • Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, 2017, 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting). Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia.
  • Munira, S.L. 2023. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Sosialisasi Kebijakan Intervensi Stunting. Jakarta, 3 Februari 2023.
  • UNICEF. United Nations Children Funds. 2016. The State of The World’s Children. World Bank Group. New York (USA): UNICEF.
  • Universitas Mercu Buana Yogyakarta. 2023. KKN 54 UMBY Sosialisasi Gizi dan Stunting di Padukuhan Kangkung A. https://mercubuana-yogya.ac.id/news/kkn-54-umby-sosialisasi-gizi-dan-stunting-di-padukuhan-kangkung-a.html

By Dr. Ir. Wisnu Adi Yulianto, MP

Dr. Ir. Wisnu Adi Yulianto, MP. Dosen Magister Ilmu Pangan (S2) dan Teknologi Hasil Pertanian (S1), Fakultas Agroindustri, Universitas Mercu Buana Yogyakarta, dan Pengurus Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) pangandangizi.com : turut serta menyediakan informasi dan edukasi pangan dan gizi untuk meningkatkan kesehatan anak bangsa. Menjadi media komunikasi yang memberikan solusi terhadap permasalahan pangan dan gizi bangsa.

One thought on “KKN di Desa Stunting”

Comments are closed.

Daftar Isi